Rabu, Mei 21, 2008

Raja Marsundung dan Sawit

Di kota Dumai, bilangan keluarga yang terhimpun dalam Punguan Si Raja Marsundung tidaklah banyak, dibanding anggota punguan marga lain. Sekitar seratus duapuluhan keluarga. Itu pun sudah termasuk boru bere dan ibebere. Yang menyandang marga Simanjuntak – Raja Marsundung adalah perhimpunan seluruh marga Simanjuntak – tak sampai tiga puluh keluarga. Jadi boru bere dan ibebere jauh lebih banyak. Begitupun, dalam tiap kegiatan punguan, baik partangiangan, pesta kawin, pesta bona taon dan lain sebagainya, kami yang ‘mardongan tubu’ (sesama marga simanjuntak) tidak pula selalu ‘renta’ hadir. Jarang terlihat hingga sepuluh orang. Kemabali lagi, tetap saja boru bere dan ibebere yang selalu lebih banyak bilangannya. Lebih menyedihkan, terutama dalam dua tiga tahun terakhir setelah meninggalnya dua orang tua simanjuntak yang mampu menjadi ‘parhata’ atau pengerti adat batak di kota Dumai, praktis hanya Ompu Ditha Carolina (bapakku) yang selalu tampil kemana-mana, membawa nama Raja Marsundung. Dengan banyak dalih, yang lainnya tiarap.

Si boan bakat na be do anggo taringot tu na marhata on, alasan seorang. Lainnya berkilah, akh, godang dope hamu natumua i, dang pola ingkon pintor sai iba da. Aku termasuk yang terakhir disebutkan. Terkadang para hela, suami para boru kami, bahkan setengah mengolok. Ba parsiajari hamu angka hula-hula i antong na marhata i da. Unang sai holan natua-tua i. Boha nama hita molo berhalangan nasida? Ya, banyak benarnya memang. Mungkin karena semakin didesak keadaan, maka dalam beberapa bulan terakhir keadaan berubah. Perlahan satu demi satu tampil juga yang mampu ‘memegang mike’ ketika ada helat batak yang melibatkan marga kami, Raja Marsundung Simanjuntak. Meski terkadang kalau diperhatikan dengan seksama akan tampak menggelikan. Para protokal atau parhata yang baru itu takkan pernah jauh-jauh dari bapak. Karena hampir bisa dikatakan mereka lebih mirip membeo apa yang dibsikkan bapak. Atau kalau tidak, ya membaca contekan. Syukurlah, mulai tahun ini gedung pesta orang batak di Dumai telah dilengkapi meja kursi. Jadi kalau mengintip contekan yang terbentang di meja tak lagi terlalu ketara. Beda dengan ketika dulu masih duduk di tikar, tentu kurang sedap dilihat kertas contekan di tangan kiri, mikrofon di tangan kanan.

Lebih membahagiakan lagi, kami yang mardongan tubu, sesama penyandang marga Simanjuntak semakin rajin hadir, menampakkan batang hidung. Hingga ada seorang ibu yang kupanggil maktuo berkomentar sambil menunjuk ke seorang Simanjuntak yang tak pernah kami tahu keberadaannya dan tiba-tiba muncul. “Uwe, na boha do dongantubunta an, on dope haidaan ate. Sona alani roa na, ganteng do inni.” Ada-ada saja maktuoku itu. Yang jelas kami bersukacita. Bisalah agak sedikit menaikkan kepala, meski jangan sampai terlalu mendongank Nanti ada pula yang bilang ‘si anggo langit’. Dibandingkan dengan punguan simanjuntak satunya lagi, Si Tolu Sada Ina, mereka berlipat kali lebih banyak dari kami. Bahkan tak sedikit yang menduga bahwa punguan simanjuntak di Dumai hanya satu, ya mereka itu. Aku pun sebenarnya berpikir, bukankah memang lebih baik satu punguan saja. Simanjuntak ya simanjuntak. Satu tok. Namun untuk sekarang hal itu bolehlah sekedar menjadi mimpi. Mewujudkannya dengan orang-orang yang sekarang amatlah berat. Terlalu banyak kukak-kukak nanti. Pekak telinga, sakit hati. Nah kan, sudah lari ceritaku.

Jadi tentang sawitnya, begini. Di Dumai, seperti banyak daerah lain, demam sawit melanda. Sebenarnya wabah ini telah lumayan lama muncul. Namun bak flu burung yang tak pernah tuntas diobati, makin merebak dan hampir tak terbendung. Lagi pula bagaimana hendak membendung ‘akka dalan ni urat’. Hitung-hitungannya jelas. Pasti untung. Yang penting kuat modal dan serius. Begitu kata mereka yang telah menjalani.

Dalam hiruk pikuk jagad sawit di sekitar kota Dumai, beberapa nama yang menyandang marga Simanjuntak Raja Marsundung turut terlibat. Dalam angka yang tak dapat disebut kecil pula. Ratus hektar. Meski bukan milik sendiri, seharusnya bangga jugalah punya ‘dongantubu’ sedemikian berhasil. Namun ternyata tidak juga. Dalam diriku sendiri lama-lama timbul rasa jengkel. Kepada seorang saja memang. Itupun karena kunilai sudah kelewatan. Holan na sawiton, begitu kata orang. Saban ketemu, bicara sawit. Menelepon, sawit. SMS pun sawit. Apa tak jengkel awak. Tanya kabarlah. Bagaimana, sehatkah, bagaimana anak, sudah bicara, begitu kan enak.

Simaklah. Kami yang hampir sebaya, pernah sama-sama menimba ilmu di tempat yang sama, bekerja di perusahaan yang sama. Akhirnya sama-sama berhenti, sebenarnya mengundurkan diri, dan kembali ke kota kelahiran Dumai. Dia, ya itu tadi , bersawit. Aku pula makan gaji. Awalnya dulu taklah separah sekarang. Saban kami bertemu, apalagi ketika itu masih sama-sama lajang masih bisa bicara ngalor-ngidul, tentang banyak hal. Kemudian dia menikah, aku juga. Bicara sawit makin banyak. Sekarang menjadi-jadi. Ditanya kenapa tak datang partangiangan, aduh, abang panen. Kenapa tak datang pesta bona taon, masukkan bibit. Ketika beberapa hari lalu seorang dongan tubu kami menikahkan anaknya dan semua kami yang mardongantubu diulosi, simaklah sms apparaku itu. “Pak dita, abang terlambat, tadi ngantar bibit ke basilam. Acara sudah sampe dimana? sudah mangulosi?” Aku yang lagi menyeruput tuak di kantin gedung pesta pun terpaksa tersenyum kecut. Bukankah baris pertama sms itu bisa dibuang. Tak perlulah aku tahu dia lagi ngirim bibit. Kalau mau datang ya datang saja.

Sebenarnya aku malu juga ke diri sendiri. Woi, sirik karena tak punya kau ya. Tapi tak jugalah. Banyak orang punya sawit tak sampai begitu. Santai saja. Kupikir lagi, dia itu kan sekali-sekalinya keluar dari hutan harusnya banyak menyimak. Menyerap kabar. Koq malah memaksa, memang memaksa lo, orang lain mendengar tonase sawitnya, lahan barunya, truk kreditannya. Apa tak palak awak. Pernah anaknya sakit dan harus dirawat. Dengan berat hati aku datang menjenguk. Kekuatiranku menjadi nyata. Bicara sebentar tentang sakit anaknya, kembali lagi ke sawit. Terakhir aku bertanya kabar bapaknya yang setahun ini tak pernah muncul ke ‘ulaon’ Simanjuntak. Jawabnya: “tapi kan kita ada nambah lahan pak ditha. Jadi opung (maksudnya bapaknya) sekarang disitu yang menanam bibit. Habis kalau dibiarkan orang gajian itu, tak percaya kita. Nanti mau dibilang sudah ditanam, dst.....” Hahaha, syukurlah, kataku dalam hati. Kupikir sakit, kan tak enak jika tak dijenguk. Kalau yang bersawitnya, lantaklah disitu.

0 comments: