Jumat, Juni 06, 2008

Pejabat

Kemarin, di tengah jalan aku bercakap - cakap dengan Ditha ketika membawanya pulang sekolah.

"Lihat boru, banyak polisi berjaga di jalan. Bararti ada pejabat mau datang."

"Pejabat itu apa Pa?"

"Pejabat ya orang penting. Yang memerintah. Misalnya presiden, gubernur, walikota, ya mentri."

"O, yang naikkan BBM itu ya Pa?"

Aku pun garuk-garuk kepala, eh, helm.

Rabu, Mei 21, 2008

Raja Marsundung dan Sawit

Di kota Dumai, bilangan keluarga yang terhimpun dalam Punguan Si Raja Marsundung tidaklah banyak, dibanding anggota punguan marga lain. Sekitar seratus duapuluhan keluarga. Itu pun sudah termasuk boru bere dan ibebere. Yang menyandang marga Simanjuntak – Raja Marsundung adalah perhimpunan seluruh marga Simanjuntak – tak sampai tiga puluh keluarga. Jadi boru bere dan ibebere jauh lebih banyak. Begitupun, dalam tiap kegiatan punguan, baik partangiangan, pesta kawin, pesta bona taon dan lain sebagainya, kami yang ‘mardongan tubu’ (sesama marga simanjuntak) tidak pula selalu ‘renta’ hadir. Jarang terlihat hingga sepuluh orang. Kemabali lagi, tetap saja boru bere dan ibebere yang selalu lebih banyak bilangannya. Lebih menyedihkan, terutama dalam dua tiga tahun terakhir setelah meninggalnya dua orang tua simanjuntak yang mampu menjadi ‘parhata’ atau pengerti adat batak di kota Dumai, praktis hanya Ompu Ditha Carolina (bapakku) yang selalu tampil kemana-mana, membawa nama Raja Marsundung. Dengan banyak dalih, yang lainnya tiarap.

Si boan bakat na be do anggo taringot tu na marhata on, alasan seorang. Lainnya berkilah, akh, godang dope hamu natumua i, dang pola ingkon pintor sai iba da. Aku termasuk yang terakhir disebutkan. Terkadang para hela, suami para boru kami, bahkan setengah mengolok. Ba parsiajari hamu angka hula-hula i antong na marhata i da. Unang sai holan natua-tua i. Boha nama hita molo berhalangan nasida? Ya, banyak benarnya memang. Mungkin karena semakin didesak keadaan, maka dalam beberapa bulan terakhir keadaan berubah. Perlahan satu demi satu tampil juga yang mampu ‘memegang mike’ ketika ada helat batak yang melibatkan marga kami, Raja Marsundung Simanjuntak. Meski terkadang kalau diperhatikan dengan seksama akan tampak menggelikan. Para protokal atau parhata yang baru itu takkan pernah jauh-jauh dari bapak. Karena hampir bisa dikatakan mereka lebih mirip membeo apa yang dibsikkan bapak. Atau kalau tidak, ya membaca contekan. Syukurlah, mulai tahun ini gedung pesta orang batak di Dumai telah dilengkapi meja kursi. Jadi kalau mengintip contekan yang terbentang di meja tak lagi terlalu ketara. Beda dengan ketika dulu masih duduk di tikar, tentu kurang sedap dilihat kertas contekan di tangan kiri, mikrofon di tangan kanan.

Lebih membahagiakan lagi, kami yang mardongan tubu, sesama penyandang marga Simanjuntak semakin rajin hadir, menampakkan batang hidung. Hingga ada seorang ibu yang kupanggil maktuo berkomentar sambil menunjuk ke seorang Simanjuntak yang tak pernah kami tahu keberadaannya dan tiba-tiba muncul. “Uwe, na boha do dongantubunta an, on dope haidaan ate. Sona alani roa na, ganteng do inni.” Ada-ada saja maktuoku itu. Yang jelas kami bersukacita. Bisalah agak sedikit menaikkan kepala, meski jangan sampai terlalu mendongank Nanti ada pula yang bilang ‘si anggo langit’. Dibandingkan dengan punguan simanjuntak satunya lagi, Si Tolu Sada Ina, mereka berlipat kali lebih banyak dari kami. Bahkan tak sedikit yang menduga bahwa punguan simanjuntak di Dumai hanya satu, ya mereka itu. Aku pun sebenarnya berpikir, bukankah memang lebih baik satu punguan saja. Simanjuntak ya simanjuntak. Satu tok. Namun untuk sekarang hal itu bolehlah sekedar menjadi mimpi. Mewujudkannya dengan orang-orang yang sekarang amatlah berat. Terlalu banyak kukak-kukak nanti. Pekak telinga, sakit hati. Nah kan, sudah lari ceritaku.

Jadi tentang sawitnya, begini. Di Dumai, seperti banyak daerah lain, demam sawit melanda. Sebenarnya wabah ini telah lumayan lama muncul. Namun bak flu burung yang tak pernah tuntas diobati, makin merebak dan hampir tak terbendung. Lagi pula bagaimana hendak membendung ‘akka dalan ni urat’. Hitung-hitungannya jelas. Pasti untung. Yang penting kuat modal dan serius. Begitu kata mereka yang telah menjalani.

Dalam hiruk pikuk jagad sawit di sekitar kota Dumai, beberapa nama yang menyandang marga Simanjuntak Raja Marsundung turut terlibat. Dalam angka yang tak dapat disebut kecil pula. Ratus hektar. Meski bukan milik sendiri, seharusnya bangga jugalah punya ‘dongantubu’ sedemikian berhasil. Namun ternyata tidak juga. Dalam diriku sendiri lama-lama timbul rasa jengkel. Kepada seorang saja memang. Itupun karena kunilai sudah kelewatan. Holan na sawiton, begitu kata orang. Saban ketemu, bicara sawit. Menelepon, sawit. SMS pun sawit. Apa tak jengkel awak. Tanya kabarlah. Bagaimana, sehatkah, bagaimana anak, sudah bicara, begitu kan enak.

Simaklah. Kami yang hampir sebaya, pernah sama-sama menimba ilmu di tempat yang sama, bekerja di perusahaan yang sama. Akhirnya sama-sama berhenti, sebenarnya mengundurkan diri, dan kembali ke kota kelahiran Dumai. Dia, ya itu tadi , bersawit. Aku pula makan gaji. Awalnya dulu taklah separah sekarang. Saban kami bertemu, apalagi ketika itu masih sama-sama lajang masih bisa bicara ngalor-ngidul, tentang banyak hal. Kemudian dia menikah, aku juga. Bicara sawit makin banyak. Sekarang menjadi-jadi. Ditanya kenapa tak datang partangiangan, aduh, abang panen. Kenapa tak datang pesta bona taon, masukkan bibit. Ketika beberapa hari lalu seorang dongan tubu kami menikahkan anaknya dan semua kami yang mardongantubu diulosi, simaklah sms apparaku itu. “Pak dita, abang terlambat, tadi ngantar bibit ke basilam. Acara sudah sampe dimana? sudah mangulosi?” Aku yang lagi menyeruput tuak di kantin gedung pesta pun terpaksa tersenyum kecut. Bukankah baris pertama sms itu bisa dibuang. Tak perlulah aku tahu dia lagi ngirim bibit. Kalau mau datang ya datang saja.

Sebenarnya aku malu juga ke diri sendiri. Woi, sirik karena tak punya kau ya. Tapi tak jugalah. Banyak orang punya sawit tak sampai begitu. Santai saja. Kupikir lagi, dia itu kan sekali-sekalinya keluar dari hutan harusnya banyak menyimak. Menyerap kabar. Koq malah memaksa, memang memaksa lo, orang lain mendengar tonase sawitnya, lahan barunya, truk kreditannya. Apa tak palak awak. Pernah anaknya sakit dan harus dirawat. Dengan berat hati aku datang menjenguk. Kekuatiranku menjadi nyata. Bicara sebentar tentang sakit anaknya, kembali lagi ke sawit. Terakhir aku bertanya kabar bapaknya yang setahun ini tak pernah muncul ke ‘ulaon’ Simanjuntak. Jawabnya: “tapi kan kita ada nambah lahan pak ditha. Jadi opung (maksudnya bapaknya) sekarang disitu yang menanam bibit. Habis kalau dibiarkan orang gajian itu, tak percaya kita. Nanti mau dibilang sudah ditanam, dst.....” Hahaha, syukurlah, kataku dalam hati. Kupikir sakit, kan tak enak jika tak dijenguk. Kalau yang bersawitnya, lantaklah disitu.

Rabu, April 23, 2008

On Party Goers, An Pe Tong Marpestai. Bagian dua : Trio Flamingo

Hingga hari sabtu yang lalu (5/4) aku masih menghadiri satu lagi pesta bona taon. Bukan sebagai peserta, melainkan penghibur. Bersama dua lagi temanku, yang satu semargaku Simanjuntak, satu lagi bermarga Simatupang, kami bernyanyi menghibur di banyak pesta batak. Nama kelompok kami, Trio Flamingo.

Meski dengan formasi berbeda, antara kami bertiga sebenarnya telah pernah bersama dalam kelompok bernyanyi, baik trio maupun vocal grup. Namun, untuk mempertemukan formasi sekarang ini sempat tersendat-sendat. Maklumlah. Simatupang , yang selalu kusapa ‘Tulang’, sebagai penggagas trio ini awalnya ragu apakah kami Simanjuntak berdua bersedia bersama dalam satu grup nyanyi. Siapa tidak tahu kisah bau marga Simanjuntak dan dua kerbaunya, yang hingga sekarang masih diseret-seret dan dihembuskan. Aku dan Uda, Simanjuntak satu lagi di trio kami, memang lain kerbau. Dan menurut para pemuja kisah horor Simanjuntak, kami berdua tidak semestinya berdekatan, apalagi sampai bersatu membentuk satu kelompok bernyanyi atau semacamnya.

Namun niat kami tak dapat dibendung oleh kisah, yang maaf saja menurutku, lebih dekat ke tahyul. Hampir dua tahun lalu kami pun menggabungkan diri. Aku personil termuda. Tulang sudah kepala empat, demikian juga Uda. Anak-anak mereka telah pun beranjak dewasa. Ada yang bahkan telah memakai seragam polisi. Sedang putriku masih TK nol kecil. Begitupun, beda usia mampu kami jembatani. Kebetulan, dengan Tulang aku sama-sama menjadi anggota kelompok koor di gereja. Namanya Koor Amasada. Aku dan Uda, meski baru berkenalan cepat sekali akrab. Jujur saja, mereka berdua banyak mengajariku ihwal bernyanyi dengan cengkok batak. Bagaimana membunyikan suara tiga atau lima, yang menjadi bagianku dalam grup kami. Suaraku yang tipis namun lumayan melengking memang lebih cocok kesana. Satu yang hingga sekarang belum dapat kulakukan. Bernyanyi dengan suara palsu. Kata mereka ‘marskill’. Aku dulu terkagum-kagum dengan ketinggian dan padunya suara-suara trio batak. Belakangan baru kutahu bahwa banyak dari penyanyi itu yang menggunakan suara palsu. Aku tak tahu nama tehnik itu. Apakah itu falseto, entahlah. Pengalamanku hanyalah menyanyikan lagu-lagu Guns n Roses, Skid Row, Extreme, Quenn serta sejenisnya.

Pekanbaru dan Piala Yang Tak Digilir

Begitulah, ketika beberapa bulan lalu diadakan sebuah festival trio batak di kota kami, Dumai. Kami ikut serta dan juara. Awalnya kami tak bulat suara hendak mengikuti. Tulang seperti teragak-agak. Ragu. Ketika mendengar lagu wajib ia makin ragu. Lagu ini dinyanyikan keroyokan. Ada Victor Hutabarat, Rita Butarbutar dan Trio Ambisi. Bagaimana hendak mentriokannya? Begitulah ia gusar. Namun, sebagaian karena tidak ikhlas kalau hadiah sekian juta jatuh ke tangan orang lain, kami pun rajin jugalah latihan. Hasilnya mallapak.

Dilanjutkan dengan tingkat propinsi. Kami berangkat ke Pekanbaru. Hendak merebut piala Kapolda. Kami dikarantina di sebuah hotel yang karena menyandang nama ‘bintang’ – hotel ‘Bintang Anu’, semacam itulah - maka berani-beraninya memampangkan gambar tiga buah bintang di atas hotelnya. Seperti kontestan lain, kami pun kecele. Di hotel, rajin sekali kami berdoa. Hendak makan berdoa. Mau tidur berdoa. Berangkat tanding ke hotel yang benar-benar berbintang tiga, pun berdoa. Lebih gomos tentunya. Bunyi doa kami kira-kira begini, “Tuhan kami tidak minta kemenangan. Namun jika kiranya kami layak Tuhan, berikanlah kemenangan itu. Agak sombong ya sebenarnya. Kalau tidak salah, tiga kali doa seperti itu dipanjatkan Tulang. Diaminkan kami.

Di malam final aku benar-benar grogi. Dengan bahasa Batak yang dikental-kentalkan, kuusahakan membaur dengan para kontestan lain. Mereka datang dari serata Riau, namun tampak betul bukanlah seperti aku, lahir dan besar di Bumi Lancang Kuning ini. Di penyisihan siang hari, semua kontenstan kecuali dari Pekanbaru dan Dumai sudah tersingkir. Jadi kalaupun hadir di malam final, mereka yang berasal dari Pelalawan Siak dan lainnya hanyalah menonton. Meski begitu, dapat jugalah mereka bertegur sapa, bahkan sesekali bercanda dengan para pesohor di kancah musik Batak. Trio Ambisi hadir, demikian juga Trio Maduma. Andolin Sibuea yang aransemen musiknya telah menghiasi ratusan album lagu Batak, bahkan bernyanyi. Victor Hutabarat yang ramah datang membawa istrinya. Benny Panjaitan dan Rita Butarbutar menjadi juri. Ah, banyak lagi. Mereka semua ramah dan memang punya suara indah belaka. Tak terbayangkan sebelumnya aku akan pernah selarut ini dengan jenis musik yang dulu selalu kuanggap kelas tujuh belas. Malu aku ke diri sendiri. Namun tak lama. Ketika akhirnya ketua tim juri, Benny Panjaitan mengumumkan kami memperoleh tempat kedua, alamak, betapa berbungah hatiku, hati kami. Sungguh sebuah pencapaian.

Pelan-pelan terungkap bahwa hanya kamilah, finalis dari Dumai, yang merupakan trio comoton. Maksudku, bukan bagian dari suatu grup musik Batak. Para pesaing kami, memang menjadikan seni bernyanyi sebagai sandaran hidup. Mereka punya tempat latihan tetap dan alat musik serta pemain, sedangkan kami hanya menumpang latihan di gedung serbaguna yang memiliki alat musik. Hanya modal pertemanan belaka.

Bahkan di kemudian hari ada yang mengatakan bahwa festival tersebut diadakan untuk mengadu gengsi masing-masing grup musik Batak di kota Pekanbaru. Apa iya? Ada-ada saja.

Hingar bingar malam itu tuntas sekitar pukul dua dini hari. Besok siangnya, setelah mengelilingi kota Pekanbaru, bukan hendak mau pesiar, namun karena supir yang membawa rombongan sok tahu dan akhirnya lilu, kami pun pulang.

Baik ketika berangkat, maupun pulang dari Pekanbaru, aku selalu duduk sebangku dengan Uda. Di hotel pula setempat tidur. Nir bencana. Terima kasih Tuhan, bathinku. Mudah – mudahan dibukakan mata hati saudara-saudaraku Simanjuntak lainnya.

Piala setinggi kurang lebih delapan puluh sentimeter pun kami boyonglah. Sebagai pendiri dan memang pimpinan kami, Tulang berhak membawa ke rumahnya untuk pertama kali. Katanya, “Tu jabunami ma parjolo ate lae. Ba marganti hita.” Aku dan Uda mengiyakan. Jadi, kalau nanti anak istriku hendak melihat rupa piala itu, aku harus menjemput, atau tepatnya meminjam dari rumah Tulang. Ah, kupikir tak perlulah itu. Siapa juga yang mau menenteng piala di sepeda motor, kemudian beberapa hari kemudian memulangkannya. Di kemudian hari, ketika berlatih di rumah Tulang, penglihatanku sering terbetot oleh piala yang memang dipajang di ruang di mana kami sering latihan. Aku hampir lupa, piala itu ada.

Karena Dumai bukanlah kota besar, pencapaian kami cepat tersiar. Diberitakan di koran lokal sebenarnya. Akan tetapi karena hanya memperoleh posisi kedua, foto kami yang berada baris kedua tertutup sosok kapolda, panitia dan juara satu. Dari bagian tubuhku yang terlihat hanya dahi ke atas. Dengan malu-malu harus kuterangkan juga ke handai-taulan dan teman-teman bahwa kepala yang tersembul itulah aku. Tulang dan Uda bahkan tidak kelihatan. Maklum, mereka tidak lebih tinggi dariku.


The Job.

‘Job’ manggung kami bertambah. Di natal oikumene kami tampil. Ikut juga menemani ibu walikota ketika didaulat bernyanyi di natal tersebut. “Nanti kalau ada acara kita nyanyi sama-sama lagi.”, demikian bisik ibu walikota ke kami waktu itu. Hingga sekarang belum kesampaian. Mungkin ibu walikota lupa, atau ia ingat tapi tak tahu bagaimana menghubungi kami .

Masih di minggu kedua bulan januari 2008 sudah ada punguan marga mengadakan pesta bona taon. Panggilannya pun mendadak. “Marsogot marende hita lae, di jabu ni si Hasibuan katua.”, demikian Tulang menelepon malam itu. ‘Hasibuan katua’ adalah ketua koor Amasada (koor kami), juga menjabat ketua parsahutoan Mauliate (parsahuton kami) dan sekaligus ketua marga Hasibuan.

“Waduh, suaraku lagi rusak tulang. Aku batuk..”

“Palan-palan pe tabaen. Nunga terlanjur huoloi.”

Demikianlah, dengan suara pas-pasan, bahkan sering keseleo, aku datang dan ikut bernyanyi juga besoknya. Waktu berlalu dan hampir tiap minggu kami manggung. Di pesta parsahutaon atau STM, pesta marga, ataupun kumpulan yang dibentuk karena rasa kebersamaan. Seperti punguan yang mengundang kami awal April lalu. Punguan Satahi Saroha, demikian namanya. Dibentuk atas rasa kebersamaan para penggiat lapo tuak. Baik pemilik, maupun pengunjung, se Dumai. Jumlah mereka sekitar delapan puluh orang. Ketuanya juga si “Hasibuan Katua’. Di pesta Sabtu itu, mereka menyertakan istri. Uniknya, istri boleh duduk manis. Para suamilah yang meladeni. Menyiapkan cuci tangan, nasi, lauk, sup, air minum dalam kemasan semua dilakukan para suami. Kecuali air minum dalam jirigen alias tuak, tak dihidangkan bagi para istri.

Mereka puas akan suguhan kami. Kami pula menikmati saweran mereka. Semua senang, kecuali mungkin tetangga tuan rumah yang terpaksa mendengar dentuman pengeras suara. Entahlah.

Akan halnya pesanan alias orderan atau ‘job’ manggung kami sebenarnya lumayan banyak. Namun tak sedikit yang batal, karena ketidaksesuaian harga. “Musik ni halahan (disebutkanlah nama pemilik) nasa i nunga lengkap martagading dohot suling. “, demikian biasanya pemilik hajatan yang berniat menanggap kami bersuara ketika mendengar penawaran kami. Apa boleh buat. Kami memang belum memiliki sound system sendiri. Perangkat musik dan sound system orang lainlah yang kami sewa saban manggung. Jadi sulit untuk menekan harga. Maka secara umum ‘job’ yang datang terbagi dua. ‘Real job’, yaitu orderan yang memang ‘deal’, dan ‘ blow job’, yakni pesanan manggung yang tak menjadi, lalu bersama angin, karena ketidaksesuain harga tadi.


­Parendeon

Tahun lalu, ketika berniat menjadi pengisi acara di hotel, kami telah membuat buku lagu. Tulang dan Uda memberikan teks lagu-lagu, kemudian kuketik dan kujilid dengan sampul dilaminating dan tulangan spiral, agar benar-benar awet. Kubuat rangkap tiga sehingga masing-masing kami kebagian satu. Meski bernyanyi di hotel urung, sekali lagi karena ketidaksesuain harga, buku lagu tersebut tetap dipakai. Bahkan bertambah tebal karena banyak lagu baru. Jadi bukan buku ende HKBP saja yang punya suplemen.

Untuk lagu-lagu tortor, tak melulu lagu Batak yang kami dendangkan. Masuk juga lagu –lagu seperti Volare, La Bamba, bahkan Munajat Cinta.

Di tiap penampilan, baik pesta marga maupun STM atau parsahutaon, biasanya kami akan menyanyikan beberapa lagu sebelum panortoron. Sebelum, ketika atau sesudah makan. Bernyanyi ketika orang Batak makan benar-benar tak sedap. Ada saja orang yang menyebut diri protokol menimpali dengan suara dibesarkan, entah dapat mike dari mana dia, ”Paso hamu jo, paso hami jo na marende i, adong pengumuman.” Ketika kami yang ‘kentang’-kena tanggung- akhirnya benar-benar berhenti di tengah lagu yang hampir klimaks, beginilah bunyi penguman itu :

“Tu akka ina, tinggalhon hamu solop muna i di luar. Unang panaek manang diboan tu tikkar. Saulak nari, tu akka ina, bege hamu-bege hamu...”, ini biasanya karena yang dikasih peringatan, kaum ibu, cuek dan tetap ngerumpi. “Tinggalhon solop muna di luar, unang dipanaek tu tikkar. Songon i ma. Toe, torushon hamu ma na marende i.”, katanya sambil berpaling ke kami, khususnya ke Tulang yang berada di belakang keyboard. Kami bertiga akan saling pandang, dan sulit kulukiskan di sini wajah jengkel Tulang. Biasanya ia akan melengos, pergi ke sudut-sudut, marbete-bete, kemudian balik lagi ke belakang keyboard. Banyak lagi contoh pengumuman tak kalah norak dan tak perlu yang kerap menyela penampilan kami.

Kadang aku heran juga melihat kebiasaan orang Batak dalam menggunakan mikrofon. Sulit menemukan suku lain yang punya kepercayaan diri tinggi seperti orang Batak dalam memegang dan berbicara memakai mikrofon. Di pesta adat pernikahan, paling tidak di kotaku, tampak sekali hal itu. Sering terlihat mike wireless bahkan dimasukkan ke saku jas sambil berjalan kesana-kemari jelajatan. Entah mencari dongan tubu atau borunya hendak memasuki gedung, atau mungkin mencari istri, hendak meminta sapu tangan. Bisa jadi ia takut mikenya diambil orang lain. Tapi ini sudah ngelantur. Kali lain kita bicarakan.

Selasa, Februari 05, 2008

On Party Goers, An Pe Tong Marpestai

Tahun Baru, Pesta, Babi, Kerbau, Sapi, Musik, Poco-poco, Anak Medan. Atau : Bona taon, toktok ripe, iuran taon, manortor, hasil tortor, na somargota, na margota, parsubang, hula-hula, hela-boru-bere, anggota baru. Jangan bingung kawan. Itu tadi semua adalah lema-lema yang selalu ditarikan lidah orang Batak dalam dua tiga bulan ini. Yah, paling tidak di kotaku inilah, Dumai.

Wajib hukumnya bagi tiap punguan marga meghelat pesta bona taon atawa awal tahun. Masing-masing punya alasan kenapa itu harus dilakukan. Tiga empat tahun lalu aku masih sering mendengar bahkan terlibat diskusi tentang perlu tidaknya helat begitu diadakan. Bukankah pemborosan saja? Coba, ehm…, fulus yang dihamburkan untuk kesemua pesta itu, maksudnya dari tiap marga, dikumpulkan. Sudah terbinalah sebuah gedung baru untuk orang Batak. Sopo Godang. Ya, ya, ya, betul itu, kata yang lain. Kita memang keliwat boros. Bukan main. Kita harus berubah, kalau tidak sekarang kapan lagi, yang lain lebih bersemangat.

“Daga, holan sahali do di bagasan sataon poang, tanda na adong ma pasu-pasu i, i pe keberatan hamu. Pikkiri hamu jo antong.”, nah, yang ini pendapatnya sebaliknya pula. “Ba angka ulaon parsaoran do poang niula, tong ingkon protesan muna.”, hehehe, yang ini diucapkan dengan lakon geleng-geleng kepala. Ia bingung, lawan bicara pun mirdong. Tak nyambung.

Heran juga. Tahun ini aku hampir tak mendengar debat serupa. Yang kulihat, kalau memang tak sanggup, maksudnya tak punya duit untuk membayar toktok ripe alias sumbangan wajib, juga untuk menari atau manortor, belum lagi untuk jajan anak-anak yang minta dibelikan ini itu di gedung pesta, maka lebih baik tak datang. Jadi, ini pengamatanku, yang menghadiri pesta-pesta itu sudah siap luar dalam, jasmani (uang di dalam saku jas) dan rohani (siap mental jika yang disumbang ketika manortor ogah dikasih duit seribu, minta sepuluh ribu atau lebih dengan menjauhkan jari-jarinya ketika hendak diselipi duwit).

Pesta bona taon jamaknya diawali kebaktian. Ya bernyanyi, ya berdoa, ya mendengar kotbah. Kotbah-kotbah pada pesta bona taon adalah rangkaian kotbah yang paling tidak diacuhkan orang batak. Miris juga melihat para pewarta kabar baik itu berusaha menggugah pendengarnya untuk memulai cara hidup baru di tahun yang baru. Untuk meninggalkan kebiasan buruk dan lebih mendekatkan diri ke sang Khalik. Hei, waktu berjalan. Lihatlah bencana, lihat banjir, kelaparan. Si Polan tak bersama kita lagi tahun ini. Ucap syukurlah engkau masih bernafas, sehat dan terberkarti. Hm, baris depan pendengar lumayan serius. Baris tengah sibuk melihat jadwal partangiangan sepanjang tahun yang entah kenapa diagihkan pada awal kebaktian. Baris belakang, ngk…, keluar masuk gedung, merokok. Membunuh waktu, menunggu jeda makan dan hirup pikuk tortor.

Komisaris, makan, sup

Kebaktian usai. Layaknya tadi ditekan tombol ‘mute’, maka sekarang adalah ‘voice on’. Hendak marsipanganon.

“Hot ma hita di hundulanta be. Asa unang sarupa tu onan. Holan komisaris ma na mardalan.” Beginilah diulang-ulang oleh MC – orang batak lebih suka menamainya protokol, mungkin agar terkesan lebih menjabat – atau seruan lain yang senada. Idealnya memang, karena bukan makan ala prasmanan, ya duduk sajalah. Toh akan dilayani. Namun karena posisi duduk sedari awal tak ideal, tak berkumpul menurut pembagian wilayah atau komisarisnya, maka sibuklah para komisaris ke depan ke belakang sudut kiri sudut kanan, mencari anggotanya, membagi-bagikan jatah daging yang telah dibungkusi dalam plastik. Yang tidak sabar, telah melihat komisaris tapi merasa bahwa sang komisaris tidak melihat kehadirannya, mengambil inisiatif mendatangi. Satu memulai, yang lain ikut. Nasi dalam bakul yang diseret-seret seraya dibagikan pun dikerubungi. Begitu juga sup. Jangan sampai sup terlambat tiba. “Si Nando nami dang boi mangallang na siak.”, alasan sang ibu seraya mencedukkan ‘bokkor’nya ke dalam ember atau wadah lain berisi sup yang sebenarnya telah diletakkan jauh dari jangkauan Mak Nando dan kawan-kawannya.

Semampu para petugas – protokal, komisaris, dan para pembatunya – hal begini berusaha ditertibkan. Kalau pun tak reda juga, tetap seperti pasar, paling-paling doa hendak makan yang tertunda.

“Nunga boha, nga ris be sude? Boha di sabola siamun, alusi hamu sian pudi an, sabola hambirang, boha do, nunga ris be amang inang? Molo songon i hupasahat hami ma tu penasehat laho mambahen tangiang parmanganonta.” Akhirnya memang makan juga . Lagipula, serunya ya ketika hiruk pikuk tadi. Jika tengah makan malah hampir sunyi senyap. Hampir? Iya. Di pengeras suara terkadang terdengar juga permintaan seperti :

“Parmusik! Baen hamu ma musik na tabo i jo, asa unang kosong accara permanganan on.” Maka memang jadi mantaplah suasana makan itu. Keyboard berbunyi, suara penyanyi pun bergema. Bernyanyi seorang saja kerasnya sudah minta ampun. Tak ada treble, tak ada bas do. Heran. Sound system bagus, mahal. Tapi, bunyi yang keluar pokoknya keras. Bernyanyi pula tiga orang alis trio. Japjap ma.

(akan disambung)

Ehm.., Pesta Bona Taon Ni Punguan Amasada (2)

Biasanya, untuk memudahkan pekerjaan ini, kami menggunakan alat bantu. Semacam “burner” yang digunakan perajin rotan. Memakai bahan bakar minyak tanah, “burner” itu dengan leluasa akan melalap sisa-sisa rambut babi (untuk Amasada, sebenarnya lebih sering panangga alias sigagat solop alias anjing), karena ia dengan mudah digenggam dan apinya ditembakkan kesana-kemari. Mungkin, karena ketika sekitar sebulan lalu ketika terakhir kami pakai, alat bantu tersebut berulah, sulit menyala dan ketika akhirnya hidup, apinya merebak kemana-mana, maka kami pun tak memakai alat pinjaman tersebut. Pinjam? Ya, kami memang meminjamnya dari seorang pemilik lapo langganan punguan Amasada. Kalaulah bukan kami –biasanya diwakili sekben- yang meminjam, belum tentu Situmeang –pemilik lapo itu- sudi meminjamkan. Kaitannya memang banyak.

Ketua punguan Amasada adalah sekaligus ketua parsahutaon atau STM (serikat tolong menolong) “Mauliate”, dimana seperempat dari anggota punguan Koor Amasada bermukim. Nah, lapo bernama “Rap Mandai” itu pun terletak di parsahutaon Mauliate. >Artinya, ketua punguan Koor Amasada adalah ketua bagi pemilik lapo Rap Mandai. Jadi kalau sudah ketua yang minjam, susah jugalah menolak. Apalagi sang sekben punguan Amasada yang sering ditugasi meminjam adalah juga bendahara parsahutaon Mauliate.

Membakar rambut babi diatas tungku berbahan bakar kayu lumayan repot juga. Babi harus dibolak-balik sedemikian rupa agar semua rambut di tiap lekuk tubuh babi itu sirna. Tahunya rambut sudah tak ada bagaimana? Ya tentu harus diraba. Jika belum licin, bakar lagi. Dibakar terlalu lama akibatnya kulit babi menghitam. Kalau sudah begini, haruslah dikikis.

Setelah yakin semua rambut habis terbakar, babi malang itu pun diangkat. Seorang jagal sudah siap sedia memotong-motong menjadi ukuran lebih kecil, untuk kemudian dicuci dan akhirnya direbus dalam kuali besar. Sebelumnya, lazim terjadi tanya jawab begini :

“Boha do bahenon on? Baenon da margoar manang holan haliang na do?”, akan bertanya sang jagal.

“Ba pature ma disi. Sai hera na sahali on dope hita marulaon panukkun mi.”, menimpali yang lain, biasanya ketua punguan.

“Daong da, betak boha do asing sahali on.” Ya, manalah tahu kali ini lain pula.

“Na biasa i ma baen. Haliang dohot ihur-ihur na sajo pe.”

Haliang adalah lingkar leher. Bentuknya adalah seperti donat raksasa, namun lebih pipih. Ihur-ihur pula adalah bagian pantat. Panjang bagian ihur-ihur biasanya diukur berdasar panjang ekor. Ekor ditarik kedepan. Bagian yang disentuh ujung ekor adalah batas untuk membentuk ihur-ihur. Sisi kiri dan kanan akan dipotong seimbang, masing masing membentuk sudut sekitar 45 derajat. Jika sang jagal terlalu asyik merapikan bentuk ihur-ihur, biasanya akan ada yang mengomentari.

“Toe ma, annon pe muse padenggan i dung di robus.” Komentar ini wajar, karena bentuk daging setelah direbus akan berubah. Jadi akan lebih baik memberi ‘final touch’ setelah direbus. Melihat ihur-ihur biasanya aku akan terbayang belangkas. Bedanya, yang ini montok.

Sembari menunggu daging yang direbus masak untuk kemudian dicincang, para parhobas disibukkan dengan kopi dan teh masing-masing. Percakapan yang selalu diiringi gelak tawa pun terjadi.

Di sudut lain, beberapa temanku asyik pula dengan panggangan. Mereka memanggang bagian dada. Katanya, bagian itulah yang paling sesuai, paling sodap jika dipanggang.

Waktu berlalu, daging usai direbus, dicincang pun sudah. Hasil panggangan pun telah dicicipi. Ramuan sambal panggang sajian teman-temanku itu sebenarnya biasa saja. Bawang merah dan putih ada, cabai merah, asam, garam. Namun, kalau sudah dilengkapi andaliman (hehehe, membayangkannya saja sekarang liurku muncul), rasanya pasti akan mengguncang dunia.

Ketika memasak daging hendak di mulai, ada sedikit kendala. Ternyata sendok – bukan sembarang sendok, sendok raksasa pendamping kuali raksasa – tidak ada. Entah tercecer di mana, tak seorang yang tahu. Aku pun berlari kecil ke rumah, menebas dua batang pelepah atau batang daun kelapa, membersihkannya, sret-sret, dan akhirnya dengan menggunakan parang membentuk menjadi sendok. Dua buah sendok besar.

Mengaduk daging dan bumbu di kuali aku masih ikut. Namun kepada teman-teman segera aku permisi, hendak membawa Pho, anak lelakiku yang berumur setahun tiga bulan ke rumah sakit. Berobat. Sejak sehari sebelumnya Pho memang mencret. Namun tidak terlalu kerap dan masih dalam jumlah sedikit. Ketika sejenak pulang ke rumah membentuk sendok tadi, istriku mengajak agar kami bawa saja Pho ke rumah sakit. Jangan sampai kecolongan. Aku pun sebenarnya berpendapat sama.

**

Acara pesta bona taon itu berlalu biasa saja. Beberapa tahun lalu kami lebih antusias. Hampir semua anggota bergantian memberi ucap salam selamat tahun baru dan menghamburkan unek-uneknya. Tahun ini sepi. Organ tunggal pun tak ada. Dulu sempat ada. Kami meminjam organ gereja, Technic KN 2400 yang beru dibeli, dan bersuka ria berdendang hingga hari gelap. Tahun ini tetap juga bernyanyi-nyanyi, namun hanya ditemani gitar. Itu pun tersendat-sendat. Karena sang gitaris harus merehatkan jari-jarinya. “Nga haccit jari-jarikku. Ala na so biasa i be.”, katanya beralasan. Maka kami yang telah ‘kentang’, kena tanggung, harus menahan selera. Menunggu jari-jarinya pulih dan berharap ia segera sudi memetik gitar lagi. Kalau tak sabar, mainkan sendirilah gitarnya, dan itulah yang kulakukan. Campuran sup babi, bir dan tuak betul-betul membuat kami kena. Manginona, kata kawanku. Lagu harus ditarik. Diselingi umpama- umpama. Umpama? Ya, umpama batak. Temanku si tuan rumah kalau sudah ‘terbang’ punya hobi unik. Menciptakan umpama. “Immatutu, nitta attong.”, begitu pintanya jika umpama sudah tercipta dan dibunyikan di hadapan khalayak. O tahe...

Selasa, Januari 22, 2008

Ehm.., Pesta Bona Taon Ni Punguan Amasada

Sejak awal Desember tahun lalu, acara ini telah dirancang. Membuhul hari, menentukan lokasi, siapa saja yang diundang, dan gerangan siapa pendeta yang akan berkotbah. Kalaupun kemudian tuan rumah berganti, dan yang berkotbah pun bukan pendeta – karena terlambat menghubungi – namun sintua, tak apalah. Tak ada Pesta Bona Taon yang urung.

Bagi orang Batak Kristen, Pesta Bona Taon adalah hal teramat jamak. Utamanya pada punguan/kumpulan marga. Bagi kumpulan koor mungkin tidak semua melaksanakannya.Namun bagi kumpulan koor kami, Koor Amasada, pesta bona taon adalah keharusan.

Pada kesempatan inilah, yang juga dihadiri oleh para istri dan anak, anggota Koor Amasada saling mengucapakan selamat tahun baru. Baku minta maaf atas kemalasan menghadiri jadwal latihan koor (marguru), atas perkataan yang terlanjur bercucuran, juga memberi saran – saran guna kemajuan kumpulan koor kami. Lazimnya, setelah mengakui kemalasannya, kami akan saling berjanji mulai saat itu menjadi rajin. Berikrarlah, tanpa diminta. Seperti biasa, minggu kan berganti bulan, janji pun basi, kami malas lagi.

Perihal ucap kata sumbang yang terlanjur meluncur, memang kerap di punguan koor Amasada. Beberapa teman biasanya lebih dulu menyambangi lapo tuak sebelum menjejak kaki ke tempat latihan koor. Bisa ditebak. Ketika latihan, besar suara tak mampu ditahan. Pilihan kata-kata ketika jeda pun lebih berani. Jika ada yang terkena ‘semprotan’ biasanya hanya bisa cengengesan, seraya berusaha membelokkan arah percakapan, atau berganti teman bicara. Sebenarnya bukan hanya tersebab ke lapo. Hari latihan yakni sabtu yang selalu diisi pesta-pesta batak pun menjadi punca. Bukankah di helat-helat batak ini pun mereka, eh, kami minum tuak juga. Pulang dari sana, kami pun ‘melayang’lah sedikit. Sipata, ke tempat latihan koor bahkan belum bersalin pakaian. Masih mengenakan baju pesta. Tahu kan baju pesta kebanyakan pria batak? Ya pakai batiklah.

Kami telah menyepakati sebenarnya, pengaturan waktu latihan. Tertulis dimulai pukul 19.30. Kenyataan selalu dimulai pukul delapan lewat ‘sedikit’. Sedikit bisa berarti seperempat bahkan setengah jam. “Tapaente ma satokkin nari. Ai sona adong dope donganhu soara dua.”, alasan serupa inilah yang kerap memundurkan jadwal latihan. “Dang lengkap dope formasi”, adalah kalimat induknya.

Apa? Geram? Hehehe, awalnya aku pun begitu. Kapan mau maju, iya kan. Dengan sok tegas pernah kuusulkan agar anggota yang tiga kali berturut-turut tidak menghadiri latihan, tanpa pemberitahuan tentunya, lebih baik diberhentikan. Aku lupa, entah kenapa usul yang waktu itu diterima tanpa perlawanan, akhirnya tak berlaku. Tak laku.

Kembali ke judul, Pesta Bona Taon Amasada kali ini diadakan di rumah tetanggaku. Jadi, tak boleh terlambat hadir marhobas. Tak ada alasan. Begitupun, janji marhobas dimulai pukul lima pagi, aku berangkat dari rumah sejam sesudahnya. Masih juga aku hadir lebih awal dari semua teman, kecuali sang sekben (sekretaris bendahara). Bersama seorang anak anggota punguan Amasada yang menjadi pemasok pinahan lobu, ia sibuk di hadapan tungku yang menyala-nyala, memegangi kaki-kaki babi yang akan kami masak menjadi lauk. Membiarkan kulit babi itu diterpa api, agar hanguslah sisa-sisa rambut atau bulu babi.


(tubikontiniu atawa marudut dope...)


Senin, November 05, 2007

Percakapan Kelamin







oleh : harnata simanjuntak



Adam : Adakah lagi yang kau tawarkan?

Eve : Selain kelamin? Tidak. Dulu sekali kutawarkan
hati. Digagahi juga. Hatiku hamil tapi tak beranak.
Busuk dan mati. Jadi kau berutang hati padaku. Tapi,
hendak kau bayar bagaimana? Telah lebih dulu kau
gadaikan hatimu dan tak tertebus. Mau kutawarkan apa
lagi? Semua tubuhku adalah lubang kelamin bagimu.
Untuk disyahwati. Sudah kubungkus tubuhku, bahkan
dengan kelambu. Berjalan pun aku meraba. Tetap kau
syahwat.

Adam : Ah. Tak tahukah kau kodrat? Aku pun kalau
terlahir sebagai kau akan bernasib sama. Semudah itu.

Eve : Semudah itu? Kenapa perkara syahwatmu
menyusahkanku. Membuat ku runsing. Kenapa tidak kau
urus dirimu sendiri. Kau buat lubang kelaminmu
sendiri.

Adam : Sudah kucoba. Cukuplah untuk menambah ragam.
Namun tetap lebih berperi denganmu. Lebih menggeletar.
Ah, jangan kau katakan kau pun tak menikmatinya.
Setahuku kau tak munafik.

Eve : Tak pernah aku hingga menikmati. Selalu hingga
hampir mati . Dan kau berhenti di situ. Ketika aku
nazak. Telah lama, karenamu juga, kelaminku kebas.
Berhenti menghantarkan getar. Ada ketika dulu, kau
coba perlahankan, hampir saja aku bangkit. Tapi kau
tetaplah kau. Tak pernah cukup sabar untukku. Kau
hempaskan lagi, dan lagi. Dan aku hampir mati lagi.

Adam : Ah, seburuk itukah aku?

Eve : Cermatilah rautku. Kali ini agak lama. Bukankah
guratannya adalah catatanmu sendiri. Sudah lama aku
tak menyentuhnya. Tak merasa ia milikku lagi. Kau,
yang sebenarnya tak lebih berhak dariku, telah membuat
akta sendiri bahwa tubuhku adalah punyamu.

Adam : Begini sajalah. Bagaimana kalau aku, maksudku
kita, ehm, perbaiki keadaan. Kita buat kesepakatan
yang menatalaksana perkelaminan. Sudah kucoba
rangkaikan.

Eve : Sudah selesai kau rangkai maka hendak kau hunjuk
padaku? Tak apalah. Aku pun sudah mengintipnya sekali.
Terlihat olehku jalinan kata-kata yang menjijikkan.
Hikmahnya ada juga. Aku jadi lebih mengerti perihal
kesyahwatanmu. Aku jadi mengerti mengapa dulu terucap
olehmu, bahwa tengkukku menerbitkan liur, lipat
lenganku serupa labia, bau tubuhkupun membuatmu
menetes. Ketahuilah, jika begitulah bingkai
perkelaminan bagimu, sungguh aku berencana untuk
berpindah jagad.

Adam : Hai, tunggu dulu. Ada apa ini? Dimana letak
salahnya? Bukankah kau akan lebih terlindungi? Kau
harus mengerti, betapa aku tak berdaya menolak birahi.
Betapa lemahnya aku sejak dulu sekali. Nun ketika
perdana memindai tubuh telanjangmu.

Eve : Beginilah terus. Selalu tentangmu. Sudah
kukatakan bukan, bahwa aku menjadi lebih mengerti
jalan pikirmu. Bagimu aku hanyalah aparatus. Alat
bantu perkelaminan. Tak bisakah kau pandang aku utuh,
sebagai setaramu? Tak bosankah dengan digdayamu?
Ajarlah tekak kelaminmu itu adab. Sehingga ia bertemu
tamadun. Tak malukah dirimu ke, ehm, hewan..?

Adam : Perbaiki bicaramu! Jika tadi kau lebih dekat
sedikit pastilah sudah ku…

Eve : Tindih..? Begitukah? Yah, tentulah kau tampar
lebih dahulu. Kau jambak. Tapi selalu akan berakhir
sama, inilah sehingga tadi kuterbitkan lema hewan.
Ujungnya kau akan gulingkan, gumuli aku.

Adam : Heh? Tidakkah kau melihat aku berusaha
menghargaimu? Akur sajalah dengan kesepakatan ini.

Eve : Sudah sekian ribu tahun. Pernahkah aku berhasil
berkata tidak. Pernahkah kata tidakku didengar?
Diambil kira?


dumai, 21 juni 2006